Category: Tulisan Lepas


di saat orang tua kita tua, bukan lagi orang tua kita yang masih muda
maklumilah orang tua kita, bersabarlah dalam menghadapinya

disaat orang tua kita menumpahkan kuah sayuran di baju mereka, disaat orang tua kita tidak lagi mengingat cara mengikatkan tali sepatu
ingatlah saat-saat bagaimana orang tua kita mengajar kita, membimbing kita untuk melakukannya.

disaat orang tua kita dengan pikunnya mengulang terus menerus ucapan yang membuat kita bosan
bersabarlah mendengarkan, jangan memotong ucapan mereka. Di masa kecil kita, orang tua kita harus mengulang dan mengulang terus sebuah cerita yang telah mereka ceritakan ribuan kali hingga kita terbuai dalam mimpi

disaat orang tua kita membutuhkan kita untuk memandikan mereka
janganlah menyalahkan mereka. Ingatkah dimasa kecil kita, bagaimana orang tua kita dengan berbagai cara membujuk kita untuk mandi?

disaat orang tua kita kebingungan menghadapi hal-hal baru dan teknologi modern
janganlah menertawai mereka. Renungkanlah bagaimana orang tua kita dengan sabarnya menjawab setiap “mengapa” yang kita ajukan pd waktu kecil

disaat kedua kaki orang tua kita terlalu lemah untuk berjalan
ulurkanlah tangan kita yang masih muda dan kuat untuk memapah mereka, bagaikan di masa kecil kita mereka menuntun kita melangkahkan kaki untuk belajar berjalan

disaat orang tua kita melupakan topik pembicaraan kita
berilah sedikit waktu kepada mereka untuk mengingatnya. Sebenarnya, topik pembicaraan bukanlah hal penting bagi mereka, asalkan kita berada di sisi mereka untuk mendengarkan mereka, mereka telah bahagia

disaat kita melihat mereka menua, janganlah bersedih
maklumilah mereka, dukunglah mereka, bagaikan orang tua kita terhadap kita disaat kita mulai belajar tentang kehidupan.

DULU ORANG TUA KITA MENUNTUN KITA MENAPAKI JALAN KEHIDUPAN INI, KINI TEMANILAH MEREKA HINGGA AKHIR JALAN HIDUPNYA.
BERILAH MEREKA CINTA KASIH DAN KESABARAN KITA, MEREKA AKAN MENERIMANYA DENGAN SENYUMAN PENUH SYUKUR.
DI DALAM SENYUM MEREKA, TERTANAM KASIH YANG TAK TERHINGGA KEPADA KITA

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua.. mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi. Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha Pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah. Pada suatu hari ke empat anak Suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk Ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan Pak Suyatno memutuskan Ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu … semua anaknya berhasil. Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata “Pak kami ingin sekali merawat Ibu semenjak kami kecil melihat Bapak merawat Ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir Bapak. … bahkan Bapak tidak ijinkan kami menjaga Ibu”. dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya “sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan Bapak menikah lagi, kami rasa Ibupun akan mengijinkannya, kapan Bapak menikmati masa tua Bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat Bapak, kami janji kami akan merawat Ibu sebaik-baik secara bergantian …” Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka.”Anak2ku … Jikalau perkimpoian & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin Bapak akan menikah … tapi ketahuilah dengan adanya Ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian … sejenak kerongkongannya tersekat … kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. Coba kalian tanya Ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini? Kalian menginginkan Bapak bahagia, apakah batin Bapak bisa bahagia meninggalkan Ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan Bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan Ibumu yg masih sakit.” Sejenak meledaklah tangis anak2 Pak Suyatno merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata Ibu Suyatno … dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.. Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah  satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan  merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno kenapa mampu  bertahan selama 25 tahun merawat sendiri Istrinya yg sudah  tidak bisa apa2.. disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak  sanggup menahan haru disitulah Pak Suyatno bercerita.  “Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta  dalam perkimpoiannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) adalah kesia-siaan. Saya  memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan  sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya mencintai  saya dengan hati dan batinnya bukan dengan mata, dan dia  memberi saya 4 orang anak yg lucu2 … Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita  bersama … dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya  dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya.  Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia  sakit,,,”

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.